Minggu, 18 Juni 2017

Penyebab Kegagalan Umum Sistem Informasi dan Peran Pemimpin Dalam E-Government

Diposting oleh Yovicha Santya Risky di 21.41 0 komentar
Menurut O’Brien (2005)  keberhasilan sistem informasi tidak seharusnya diukur hanya melalui efisiensi biaya, waktu dan penggunaan sumber daya informasi. Keberhasilan juga harus diukur dari efektivitas teknologi informasi dalam mendukung strategi bisnis organisasi, memungkinkan proses bisnisnya, meningkatkan struktur organisasi dan budaya serta meningkatkan nilai pelanggan dan bisnis perusahaan.
Rosemary Cafasaro dalam O’Brien (2009) menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan kesuksesan atau kegagalan penerapan sistem informasi dalam suatu organisasi atau perusahaan antara lain : dukungan manajemen eksekutif, keterlibatan end user (pemakai akhir), kejelasan penggunaan kebutuhan perusahaan, kematangan perencanaan dan harapan perusahaan yang nyata. Sedangkan faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan sistem informasi antara lain: kurangnya input dari end user, tidak lengkapnya pernyataan kebutuhan dan spesifikasi, pernyataan kebutuhan dan spesifikasi yang senantiasa berubah-ubbah, kurangnya dukungan manajemen eksekutif serta inkompetensi secara teknologi.
Menurut Heeks (2003) sebagian besar penyebab kegagalan aplikasi e-Gov di negara berkembang adalah karena ketidakpahaman mengenai keadaan saat ini (where are we now) dengan apa yang yang akan kita capai dengan proyek e-government (where the e-government projects wants to get us). Dengan kata lain terjadi gap atau kesenjangan antara rancangan e-Gov yang telah dibuat dengan realitas yang dihadapi sekarang. Kesenjangan ini terdapat dalam berbagai dimensi yang dikenal dengan istilah ITPOSMO (Information, Technology, Processes, Objective and Values, Staffing and skills, Management systems and structures, Other resources : time and money).

Faktor-faktor Penyebab kegagalan umum sistem informasi
Faktor-faktor yang menyebaban kesuksesan sistem informasi sebagaimana pendapat Rosemary Cafasaro dalam O’Brien (2009) dipaparkan sebagai berikut :
1.    Kurangnya input dari end user
Kurangnya keterlibatan end user pada saat proses perancangan sistem akan  menemui kegagalan pada saat diterapkan karena terjadi kesenjangan atau gap antara pengguna dan perancang atau pakar SI. Kesenjangan itu timbul karena keduanya memiliki latar belakang dan kepentingan yang berbeda (user-designer communication gap). Kesenjangan ini pada akhirnya akan menciptakan kegagalan dalam pelaksanaan sistem informasi.

2.    Tidak lengkapnya pernyataan kebutuhan dan spesifikasi
Kebutuhan yang telah dirumuskan tersebut apabila tidak mendapatkan dukungan berupa infrastruktur yang memadai akan menyebabkan kegagalan pada sistem informasi.

3.    Pernyataan kebutuhan dan spesifikasi yang senantiasa berubah-ubah
Penerapan sistem informasi pada suatu organisasi harus dilakukan perumusan dengan jelas tentang kebutuhan dan spesifikasi penggunan sistem informasi tersebut. Pernyataan kebutuhan yang tidak ditegaskan sejak awal akan berdampak negatif pada saat sistem informasi diimplementasikan dan pada akhirnya menemui kegagalan.

4.    Kurangnya dukungan eksekutif
Apabila penerapan sistem informasi tidak mendapatkan dukungan dari beberapa unsur manajemen eksekutif sebagai pengambil keputusan maka penerapan sistem organisasi akan menemui kegagalan dan mengakibatkan dampak seperti : terjadi inefisiensi biaya, pelaksanaan penerapan sistem informasi melebihi target waktu yang telah ditentukan, kendala teknis serta kegagalan memperoleh manfaat yang diharapkan.

5.    Inkompetensi secara teknologi
Penerapan dan pengembangan sistem informasi sangat membutuhkan peranan manusia sebagai brainware/operator. Apabila sumberdaya manusia dalam organisasi tidak memiliki kompetensi akan perkembangan teknologi yang semakin  maju maka penerapan sistem informasi akan mengalami kesulitan. Sistem informasi yang tidak sesuai dengan kemampuan SDM akan mengakibatkan pelaksanaan sistem informasi menghadapi kegagalan.

6.    Perencanaan yang tidak tepat dan tidak matang
Pengembangan dan penerapan sistem informasi yang tidak didukung oleh perencanaan yang matang tidak akan mampu menjadi mediator antara berbagai keinginan dan kepentingan dalam suatu organisasi. Sistem yang tidak memiliki road map yang jelas tidak mampu menjadi pegangan dalam melaksanakan sistem informasi sesuai tujuan organisasi. Sistem informasi yang tidak dirancang sesuai kebutuhan organisasi pada akhirnya akan menemui kegagalan dalam penerapannya dan hanya menimbulkan inefisiensi dalam hal biaya, waktu dan tenaga.

Contoh peran pemimpin dalam e-government
Strategi Pemikiran Pemimpin dalam Kebijakan Penerapan e-Government Melalui SIMPEG di Biro Kepegawaian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat
Strategi pemikiran yang dimiliki seorang pemimpin dalam kebijakan penerapan e-Government melalui SIMPEG di Biro Kepegawaian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat cukup memadai dengan memiliki visi yang jelas yaitu menciptakan suatu sistem pengelolaan data kepegawaian yang siap dan kapan saja disajikan dalam mendukung proses pengambilan keputusan dibidang kepegawaian. Dengan melakukan pendekatan sosialisasi tentang pentingnya suatu pendistribusian data kepegawaian, yang merupakan sebuah strategi dalam menerapkan e-Government melalui SIMPEG.
Pengetahuan Kepala Sub Bagian Data Kepegawaian dan Informasi Kepegawaian mengenai sistem informasi khususnya di kalangan pemerintahan sudah cukup baik, walaupun kepala Sub Bagian Data dan Informasi Kepegawaian bukan berlatar belakang pendidikan dari lulusan yang berkenaan dengan bidang IT. Pengetahuan tersebut didapat dengan mengikuti perkembangan dari IT tersebut, pengetahuan tersebut didapat dari pelatihan dan seminar-seminar yang berkenaan dengan IT yang berkembang di kalangan pemerintahan.
Kegiatan-kegiatan yang diikuti tersebut sebagai komitmen kepala Sub Bagian Data dan Informasi Biro Kepegawaian sebagai pengelola SIMPEG. Dari Pengetahuan kepala Sub Bagian Data dan Informasi Biro Kepegawaian ditunjang dengan kemampuan dan pengetahuan tentang pelaksanaan dari penerapan kebijakan e-Government. Pengetahuan dan kemampuan tersebut didapatkan dari pendidikan kepala Sub Bagian Data dan pada Bagian Pengadaan dan Informasi Kepegawaian yang berlatarbelakang Ilmu Pemerintahan. Dengan demikian pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki kepala Sub Bagian Data dan Informasi Kepegawaian sudah cukup memadai, sebagai penunjang untuk perkembangan dan pengelolaan SIMPEG yang lebih baik.

Kesimpulan:
Sistem informasi memiliki peranan yang sangat penting didalam mendukung perusahaan untuk dapat mencapai tujuan strategis perusahaan. Pengembangan sistem informasi sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya biaya, waktu pengembangan, kemampuan sumber daya manusia yang menjalankan sistem tersebut, dan faktor lainnya. Sistem informasi pada pemerintahan (e-government) juga sangat membantu masyarakat agar masyarakat dapat mengetahui informasi terkait tentang pemerintahan. 
Didalam mengukur tingkat keberhasilan dari penerapan sistem informasi, maka perusahaan harus melakukan evaluasi yang sistematis atas penerapannya. Dari evaluasi yang dilakukan tersebut, akan dapat ketahui tingkat kesesuaian pencapaian tujuan yang diharapkan dengan rencana perusahaan menerapkan sistem informasi tersebut dan juga dapat mengantisipasi penyebab terjadinya kegagalan pada saat penerapannya.

Penyebab-penyebab kegagalan dalam penerapan sistem informasi perusahaan diantaranya :
·         Kurangnya dukungan dari pihak eksekutif atau manajemen.
·         Kurangnya keterlibatan atau input dari end user (pemakai akhir).
·         Tidak adanya perencanaan yang memadai.

Sedangkan sistem informasi pada pemerintahan,seorang pemimpin harus berperan dalam menerapkan e-government dengan menyusun strategi secara matang dan berkualitas,dan dengan adanya kesadaran dari pemimpin,serta pemimpin yang ditunjang dengan ilmu pengetahuan dan skill maka e-government dapat terealisasi sebagaimana mestinya. 

Sumber :

 

WELCOME TO MY BLOG Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos